Kali ini saya akan bercerita. Cerita klasik seorang
mahasiswa. Ya, apalagi kalau bukan soal IP dan nilai akademik.bisa dibilang ini
pengalaman. Banyak para mahasiswa sering bilang, IPK atau nilai bukanlah
segalanya, percuma nilai dan IPK tinggi jika ujung-ujungnya soft skills dan social
skillsnya buruk. Kebanyakan yang mengatakan demikian adalah para aktivis maupun
organisator yang sangat aktiv berorganisasi. Tapi selain mereka banyak juga
yang berkata demikian. Termasuk saya.
Dipenghujung berakhirnya semester, adalah waktu yang krusial
bagi mahasiswa untuk menanti nilai. Hasil dari apa yang mereka dapatkan satu
semester penuh. Seperti saya saat ini. Di program studi yang saya ambil,
kebetulan menganut sistem blok, jadi setiap semester hanya aka nada tiga nilai
yang kami dapat. Nah pada semester ini berhubung ada mata kuliah elektif, jadi
kami mendapat empat nilai. Yang saya ingin ceritakan adalah perihal nilai saya
di salah satu blok yang kebetulan waktu itu, diumumkan pertama kali.
Waktu itu jadwal pengumaman nilai sudah terpasang, tetapi
berhubung tradisi tidak tepat waktu
sudah melekat di prodi ini, maka saya tak berharap banyak. Saya menganggapnya
santai saja, karena memang sudah feeling, semester ini bakalan jeblok. Setelah beberapa
hari pemoloran pengumuman nilai, akhirnya keluarlah si nilai. Sudah bisa
ditebak, Nilai untuk blok ini jeblok. Pertama keluar adalah blok terjeblok. Lemes
lah sudah.
Awalnya sempat merasa denial.
Dalam hati masih sering protes, “yah masa cuma segitu sih?yang lain kok
bagus-bagus. Aku cuma dapet segitu doang”. Saking denial-nya sampai2 ngepoin nilai semua teman-teman sekelompok saya.
dilihat satu per-satu, ternyata dikelompok tutorial saya, nggak ada yang
mendapat nilai “A”. sempat berkesimpulan, “aduh ini jahat banget tutornya mesti
ngasih nilainya jelek-jelek”. Itulah hal
yang paling tidak saya sukai dari diri saya, ya, menggerutu dan menyalahkan
orang lain.
Tetapi denial itu
tak berlangsung lama, hanya sebentar saja. Ketika saya kembali menyadari,
mengingat kembali, flashback dan merenungkan lagi. Di blok tersebut, saya
memang merasa, kuliah nggak niat (soalnya efek jadwal yang nggak jelas
sih,,*lagi-lagi menyalahkan orang lain), mengerjakan tugas juga alakadarnya,
banyak ngeluhnya,banyak bolosnya, banyak nggak memperhatikan dosenya (jadi
ingat, waktu itu diajar dosen X, satu sesi penuh nggak memperhatikan malah
nge-game tebak gambar sampai tamat,hihi), banyak sekali keburukanya dibandinkan
dengan keseriusanya untuk menjalani kuliah. Apalagi pas menjelang ujian,
kebetulan waktu itu bersamaan dengan ujian proposal skripsi. Ujian proposal
waktu itu jatuh pada H-3 Ujian Blok, wajar lah jika hari tenang saya tersita
untuk itu. Dan alhasil, belajar materi untuk ujian tak berlangsung secara
maksimal, hingga akhirnya ujian pun dijalankan dengan” jawab ngawur” dan ilmu
kira2 (lumayanlah masih main logika, yang penting nggak ngitung kancing).
Kembali ke pengalaman hati tadi. Merasa bodoh sendiri ketika
melakukan sesuatu secara tak maksimal tetapi meminta hasil yang lebih. Rasanya tak
tahu diri sekali. Tak mensyukuri nikmat. Padahal orang lain banyak yang lebih
kurang beruntung dari saya. itulah hal yang paling saya sesali. Padahal, saya
sendiri orang yang tak suka melihat orang mengeluh, menggerutu, atau
menyalahkan orang lain. tetapi terkadang, saya masih melakukanya.
Astagfirullohh.
Tapi akhirnya saya patut berbangga, karena akhirnya saya “tau
diri” dan dapat menerimanya dengan
lapang dada. Rasa bangga akan kemampuan saya untuk “tau diri” makin terasa
ketika seorang teman yang mendapat nilai sempurna bertanya kepada saya, “kamu
dapet apa mbak bro?”. saya lantas menjawab jujur dengan kebesaran hati. Lalu dia
menyarankan untuk mensyukurinya. Ya jelas, saya sangat bersyukur atas itu. Sampai
saya katakana pada dia. “Alhamdulillah, aku mensyukurinya, aku tau diri, di
blok itu saya tak menjalankan dengan maksimal. Dengan ketidakniatan saya tapi
masih mendapat ganjaran segitu itu sungguh Alhamdulillah banget”. Dia pun
membalas dengan emote senyum. Subhanallah
sekali teman saya satu ini.
Terkadang, saking besarnya harapan kita terhadap hasil yang
baik, kita melupakan kekurangan dan keterbatasan yang kita miliki. Terkadang kita
lupa, untuk mencapai hasil yang baik, kita juga membutuhkan proses yang baik
pula. Kebanyakan manusia menginginkan hasil yang baik, tapi tak mau melalui
prosesnya dengan baik pula.
Kita terlalu sombong
untuk mengakui hukum kehidupan, bahwa apa yang kita dapatkan, adalah apa
yang pantas untuk kita dapatkan, apa yang
kita hasilkan adalah apa yang kita lakukan. Kita hanya perlu mensyukurinya, tak
ada hal lain selain itu. Maka bila kita percaya pada kalimat “bersyukurlah maka
engkau tak pernah kurang” hidup ini pasti akan selalu menyenangkan. Saya yakin, dalah setiap peristiwa pasti ada sisi baik dan manfaatnya. apabila kita mampu melihat sisi positif disetiap peristiwa, maka disitulah kita akan bersyukur. Karena hasil yang sempurna dari sebuah proses adalah ketika kita mampu mensyukurinya.
Di kampus yang sepi, Gedung Radioputro, 28 Januari 2014
0 komentar:
Posting Komentar