Me Is My Self

tak ada keadaan yang lebih baik kecuali menjadi diri sendiri

- See more at: http://www.tutorial89.com/2014/08/cara-mudah-membuat-tombol-share-di.html#sthash.x3NNs3WP.dpuf

Writing is Everything

bersyukur, maka kamu taka kan merasa kurang

Senin, 27 Januari 2014


      Kali ini saya akan bercerita. Cerita klasik seorang mahasiswa. Ya, apalagi kalau bukan soal IP dan nilai akademik.bisa dibilang ini pengalaman. Banyak para mahasiswa sering bilang, IPK atau nilai bukanlah segalanya, percuma nilai dan IPK tinggi jika ujung-ujungnya soft skills dan social skillsnya buruk. Kebanyakan yang mengatakan demikian adalah para aktivis maupun organisator yang sangat aktiv berorganisasi. Tapi selain mereka banyak juga yang berkata demikian.  Termasuk saya.
     Dipenghujung berakhirnya semester, adalah waktu yang krusial bagi mahasiswa untuk menanti nilai. Hasil dari apa yang mereka dapatkan satu semester penuh. Seperti saya saat ini. Di program studi yang saya ambil, kebetulan menganut sistem blok, jadi setiap semester hanya aka nada tiga nilai yang kami dapat. Nah pada semester ini berhubung ada mata kuliah elektif, jadi kami mendapat empat nilai. Yang saya ingin ceritakan adalah perihal nilai saya di salah satu blok yang kebetulan waktu itu, diumumkan pertama kali.
    Waktu itu jadwal pengumaman nilai sudah terpasang, tetapi berhubung tradisi  tidak tepat waktu sudah melekat di prodi ini, maka saya tak berharap banyak. Saya menganggapnya santai saja, karena memang sudah feeling, semester ini bakalan jeblok. Setelah beberapa hari pemoloran pengumuman nilai, akhirnya keluarlah si nilai. Sudah bisa ditebak, Nilai untuk blok ini jeblok. Pertama keluar adalah blok terjeblok. Lemes lah sudah.
    Awalnya sempat merasa denial. Dalam hati masih sering protes, “yah masa cuma segitu sih?yang lain kok bagus-bagus. Aku cuma dapet segitu doang”. Saking denial-nya sampai2 ngepoin nilai semua teman-teman sekelompok saya. dilihat satu per-satu, ternyata dikelompok tutorial saya, nggak ada yang mendapat nilai “A”. sempat berkesimpulan, “aduh ini jahat banget tutornya mesti ngasih nilainya jelek-jelek”.  Itulah hal yang paling tidak saya sukai dari diri saya, ya, menggerutu dan menyalahkan orang lain.
    Tetapi denial itu tak berlangsung lama, hanya sebentar saja. Ketika saya kembali menyadari, mengingat kembali, flashback dan merenungkan lagi. Di blok tersebut, saya memang merasa, kuliah nggak niat (soalnya efek jadwal yang nggak jelas sih,,*lagi-lagi menyalahkan orang lain), mengerjakan tugas juga alakadarnya, banyak ngeluhnya,banyak bolosnya, banyak nggak memperhatikan dosenya (jadi ingat, waktu itu diajar dosen X, satu sesi penuh nggak memperhatikan malah nge-game tebak gambar sampai tamat,hihi), banyak sekali keburukanya dibandinkan dengan keseriusanya untuk menjalani kuliah. Apalagi pas menjelang ujian, kebetulan waktu itu bersamaan dengan ujian proposal skripsi. Ujian proposal waktu itu jatuh pada H-3 Ujian Blok, wajar lah jika hari tenang saya tersita untuk itu. Dan alhasil, belajar materi untuk ujian tak berlangsung secara maksimal, hingga akhirnya ujian pun dijalankan dengan” jawab ngawur” dan ilmu kira2 (lumayanlah masih main logika, yang penting nggak ngitung kancing).
    Kembali ke pengalaman hati tadi. Merasa bodoh sendiri ketika melakukan sesuatu secara tak maksimal tetapi meminta hasil yang lebih. Rasanya tak tahu diri sekali. Tak mensyukuri nikmat. Padahal orang lain banyak yang lebih kurang beruntung dari saya. itulah hal yang paling saya sesali. Padahal, saya sendiri orang yang tak suka melihat orang mengeluh, menggerutu, atau menyalahkan orang lain. tetapi terkadang, saya masih melakukanya. Astagfirullohh.
    Tapi akhirnya saya patut berbangga, karena akhirnya saya “tau diri” dan  dapat menerimanya dengan lapang dada. Rasa bangga akan kemampuan saya untuk “tau diri” makin terasa ketika seorang teman yang mendapat nilai sempurna bertanya kepada saya, “kamu dapet apa mbak bro?”. saya lantas menjawab jujur dengan kebesaran hati. Lalu dia menyarankan untuk mensyukurinya. Ya jelas, saya sangat bersyukur atas itu. Sampai saya katakana pada dia. “Alhamdulillah, aku mensyukurinya, aku tau diri, di blok itu saya tak menjalankan dengan maksimal. Dengan ketidakniatan saya tapi masih mendapat ganjaran segitu itu sungguh Alhamdulillah banget”. Dia pun membalas dengan emote  senyum. Subhanallah sekali teman saya satu ini.
     Terkadang, saking besarnya harapan kita terhadap hasil yang baik, kita melupakan kekurangan dan keterbatasan yang kita miliki. Terkadang kita lupa, untuk mencapai hasil yang baik, kita juga membutuhkan proses yang baik pula. Kebanyakan manusia menginginkan hasil yang baik, tapi tak mau melalui prosesnya dengan baik pula.
       Kita terlalu sombong untuk mengakui hukum kehidupan, bahwa apa yang kita dapatkan, adalah apa yang  pantas untuk kita dapatkan, apa yang kita hasilkan adalah apa yang kita lakukan. Kita hanya perlu mensyukurinya, tak ada hal lain selain itu. Maka bila kita percaya pada kalimat “bersyukurlah maka engkau tak pernah kurang” hidup ini pasti akan selalu menyenangkan. Saya yakin, dalah setiap peristiwa pasti ada sisi baik dan manfaatnya. apabila kita mampu melihat sisi positif disetiap peristiwa, maka disitulah kita akan bersyukur. Karena hasil yang sempurna dari sebuah proses adalah ketika kita mampu mensyukurinya.

Di kampus yang sepi, Gedung Radioputro, 28 Januari 2014

0 komentar:

Posting Komentar