Pagi-pagi sudah online jejaring social f* saja, hal
yang bisa dipandang kurang wajar. Apa iya, bangun jedher langsung berhadapan
dengan notebook lalu online. Tapi tak apalah, itu hiburan, inspirasi juga bisa,
untung-untung buat mengawali pagi, atau hanya sekedar menyalurkan hasrat “kepo”.
Why not lah asal masih dalam ambang batas kewajaran.
Bicara soal jejaring social yang satu ini, kadang saya
heran, terutama tiap kali membukanya. Hal yang membuat heran bukan jejaringnya
tapi penggunanya. Lebih tepatnya nama-nama penggunanya. Banyak sekali nama-nama
yang jauh dari jangkauan pikiran saya. Kok ada gitu ya nama orang sebegitu
anehnya sampai-sampai belum pernah terpikir sebelumnya, jauh sebelum saya
mengenal jejaring social. Kebanyakan orang mungkin menyebutnya nama
alay.istilah keren yang muncul di abad 21 ini.
Kadang saya berfikir sendiri,, “ah paling-paling orang
seperti itu adalah orang yang berprinsip apalah arti sebuah nama”. Ya mungkin,
seenaknya saja membuat nama “Budi van persie”. Pertanyaan saya yang muncul,
budi itu siapanya van persi?. Atau nama yang kadang narsis “Anie ci anag maniez”.tapi
setelah saya lihat fotonya, pertanyaan saya malah berbalik,”manis dari mananya
sih?dari kameranya mungkin”. Atau nama yang lebih extream lagi “GueCayanxDiaCelaluCetia”.
Eh lah, itu nama apa judul film ya?? Sudah aneh, tak berspasi pula. Mirisnya lagi,
dia anak SMA, jelas2 mendapatkan pelajaran Bahasa Indonesia, harusnya taulah
cara menulis yang baik dan benar. Tapi mungkin juga dia kurang paham, dan
kurang bisa mengaplikasikan. Ya, sekali lagi, mungkin.
Tetapi kebanyakan dari pemilik nama-nama aneh tersebut
adalah para remaja yang notanyeja masih dalam usia transisi dimana mereka
sangat membutuhkan sekali yang namanya pengekspresian diri. Yang saya pahami
disini adalah mungkin nama-nama tersebuta adalah bagian dari pengekspresian
jati dirinya. Mereka mengungkapkan
kesukaan mereka lewat nama mereka di jejaring social. Anak yang bernama “budi
van persie” tadi mungkin dia salah satu penggemar van persie, jadi dia ingin
menciptakan image seolah-olah di adalah satu nama dengan van persie. Atau yang
bernama “anie ci anag maniezt” itu dia ingin menunjukan kepada dunianya bahwa
dia memang anak yang manis, atau itu adalah wujud suatu daya tarik, supaya
orang yang membaca namanya tertarik untuk berteman denganya. Lain lagi yang
bernama “GueCayangDiaCelaluCetia”. Menurut saya, dia ini ingin mengekspresikan
rasa sayangnya terhadap “dia” , yang mungkin kekasihnya, lewat sebuah nama
jejaring soisalnya. Tingkah laku remaja, memang ada-ada saja.
Terlepas dari mereka yang berprinsip “apalah arti sebuah
nama” lebih tepatnya “nama jejaring social” tersebut,tetapi masih banyak juga yang berprinsip “nama adalah
doa” . mereka lebih suka untuk menu
jukan nama mereka secara sederhana atau apa adanya. Negara kita adalah Negara yang
sangat menjunjung tinggi apa itu kebebasan, jadi apa salahnya orang
berekspresi.
Sederhana dan bermakna, Rinna yuni Triwigati.
0 komentar:
Posting Komentar